Share |

  • November, 28, 2011 - 6 months ago

    Penggunaan tools/software Scrum

    Author
    jpartogi

     

    Di Scrum Meetup tanggal 25 November kemarin para pengguna Scrum di Jakarta ada membahas mengenai penggunaan tools/software Scrum karena selama ini dalam Scrum ataupun Agile penggunaan tools/software Scrum disarankan sebagai hal terakhir yang organisasi harus lakukan. Dan biasanya para konsultan atau pengajar Scrum akan menyarankan untuk menggunakan Scrum/Kanban board terlebih dahulu sebelum menggunakan tools/software Scrum. Kenapa demikian?

    Sebelumnya marilah kita kembali ke Agile Manifesto yang isinya adalah sebagai berikut:

    Individuals and interactions over processes and tools

    Dan sebagaimana kami pernah bahas di postingan kami yang sebelumnya, Agile Manifesto sifatnya lebih ke preferensi, bukan keharusan atau mandat. Yang berarti kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia kira-kira begini isinya:

    Kalau kami boleh memilih antara menggunakan tools atau berinteraksi dengan rekan kerja kami, kami akan memilih untuk berinteraksi dengan rekan kerja kami.

    Yang artinya selama penggunaan tools/software itu memiliki nilai tambah maka tools/software akan digunakan tanpa menghilangkan interaksi dengan rekan kerja kami. Mungkin anda akan bertanya-tanya apakah kelebihan papan Scrum/Kanban dan apa hubungannya dengan interaksi dengan individu?

    Sebagaimana anda telah ketahui, papan Scrum biasanya diletakkan di tengah ruangan dimana seluruh anggota tim Scrum bekerja. Dan tentunya bagi anda yang sudah pernah menggunakan papan Scrum ini sangat paham kalau papan Scrum memberikan visibility informasi terkini mengenai proyek bagi setiap pihak baik manajemen maupun pengembang. Manajemen dapat menggunakan papan ini untuk mencari tahu progress proyek terkini tanpa harus menanyakan ke developer secara langsung. Developer pun dapat menggunakan papan ini untuk melihat apakah mereka dapat menyelesaikan semua daftar pekerjaan hingga akhir Sprint. Karena posisinya yang berada di tengah ruangan, maka setiap developer tidak dapat mengabaikan keberadaan papan ini dengan alasan apapun. Bandingkan dengan penggunaaan tools/software Scrum yang karena posisinya tidak berada di tengah ruangan yang seringkali dapat dengan mudah diabaikan/terlupakan oleh para developer sehingga bukan tidak mungkin isinya tidak selalu up-to-date sehingga kemungkinan akan menyebabkan banyak pihak tidak percaya akan isinya.

    Nah hal ini belum menjawab apakah hubungan antara tools/software dengan interaksi dengan individu yang merupakan nilai dasar dari Agile? Dengan adanya papan Scrum di tengah ruangan ini, tidak jarang kami temukan apabila seorang anggota tim yang memperhatikan sebuah fitur yang akan dikerjakan di papan Scrum akan mengundang perhatian anggota tim lainnya. Dan tidak jarang dari situ timbul sebuah dialog/diskusi dengan anggota tim lainnya. Kolaborasi seperti ini mungkin tidak bisa kita dapatkan apabila kita menggunakan tools/software Scrum karena tools/software tersebut berada di komputer masing-masing anggota yang tentunya akan menyulitkan anggota lain untuk bisa tahu apakah anggota tim lain sedang memperhatikan tools/software tersebut.


    Dua hal inilah yang merupakan alasan mengapa tim Scrum selalu disarankan untuk terlebih dahulu menggunakan papan Scrum. Namun kami menyadari ada banyak contoh kasus dimana penggunaan papan Scrum tidak dapat dielakkan, seperti misalnya pada tim Scrum dimana anggotanya tidak bisa berada dalam satu ruangan ataupun terdistribusi di berbagai negara. 

    Lalu bagaimana sebaiknya langkah yang harus diambil mengenai penggunaan papan Scrum ini? Saran dari kami adalah:

    1. Gunakan terlebih dahulu cara manual dengan papan Scrum/Kanban supaya organisasi/tim anda tahu cara kerja yang natural keluar dari mereka
    2. Apabila ternyata organisasi anda ternyata tidak produktif atau tidak memungkinkan menggunakan papan Scrum, mulailah cari tools/software Scrum yang sesuai dengan cara kerja organisasi/tim anda dan bukan sebaliknya.

    Jadi apakah kesimpulannya? Penggunaan tools/software boleh saja digunakan apabila memang memberikan value bagi organisasi maupun tim dan tidak menghilangkan nilai kolaborasi dalam tim.

    Top